Empat putera Khansa yang gugur menyongsong syahadah..
Siapakah gerangan di balik mereka?
Ada pepatah yang tak asing di telinga kita, di belakang tokoh mulia, pasti ada wanita yang mulia. Bagaimana Al Khansa, seorang ibu yang mulia, mengantarkan keempat puteranya menjadi seorang mujahid sejati? Sekelumit kisah beliau
Dialah al-Khansa’Al Khansa adalah julukan seorang wanita yang bernama Tumazhir binti ‘Amru bin Sulami. Lafazh al-Khansa’ (muannats) diambil dari kata kha-na-sa (al-Khanas), artinya hidung yang pipih, dan agak menungging ke atas. Jadi,al-Khansa’adalah julukan bagi wanita, wanita Arab pertama yang jago bersyair.
Para sejarawan sepakat bahwa sejarah tak pernah mengenal wanita yang lebih jago bersyair dari pada al-Khansa’, sebelum maupun sepeninggal dirinya. Konon mulanya ia tak pandai bersyair, ia hanya bisa melantunkan dua atau tiga bait saja.Namun di zaman jahiliyah, tatkala saudara kandungnya yang bernama Mu’awiyah bin Amru as -Sulami terbunuh, ia meratapi kematiannya dalam beberapa bait syair. Lalu menyusullah saudara seayahnya yang terbunuh pula, namanya Shakhr.Konon al-Khansa’ amat mencintai saudaranya yang satu ini, karena ia amat penyabar, penyantun, dan penuh perhatian terhadap keluarga.
Kematiannya menyebabkannya sangat terpukul, lalu muncullah bakat bersyairnya yang selama ini terpendam.Dan mulailah ia melantunkan bait demi baik meratapi kematian saudaranya. Semenjak itulah ia mulai banyak bersyair dan syairnya semakin indah. Tatkala mendengar dakwah Islam, al-Khansa’ datang bersama kaumnya —Bani Sulaim— menghadap Rasulullah dan menyatakan keislaman mereka. Ahli-ahli sejarah menceritakan bahwa pernah suatu ketika Rasulullah menyuruhnya melantunkan syair, kemudian karena kagum keindahan syairnya, beliau mengatakan, “Ayo teruskan, tambah lagi syairnya, wahai Khansa’!” sambil mengisyaratkan dengan telunjuk beliau.
Wasiat al-Khansa’ Bagi Keempat Anaknya Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa al-Khansa’ dan keempat putranya ikut serta dalam perang al-Qadisiyyah, Nama sebuah daerah yang terletak sekitar 45 Mil dari Kufah, Iraq. Di daerah inilah terjadi pertempuran hebat antara kaum muslimin melawan tentara Persia, di zaman kekhalifahan Umar bin Khatthab pada tahun 16 H.
Menjelang malam pertama mereka di al-Qadisiyyah, al-Khansa berwasiat kepada putera-puteranya,“Wahai anak-anakku, kalian telah masuk Islam dengan taat dan berhijrah dengan penuh kerelaan. Demi Allah yang tiada ilah yang haqq selain Dia. kalian adalah putera dari laki-laki yang satu sebagaimana kalian juga putera dari wanita yang satu. Aku tak pernah mengkhianati ayah kalian, tak pernah mempermalukan khal, Khal artinya paman dari jalur ibu (saudara lelaki ibu) kalian, tak pernah mempermalukan nenek moyang kalian, dan tak pernah menyamarkan nasab kalian.
Kalian semua tahu betapa besar pahala yang Allah siapkan bagi orang-orang yang beriman ketika berjihad melawan orang-orang kafir. Ketahuilah bahwa negeri akhirat yang kekal jauh lebih baik dari negeri dunia yang fana. Allah Azza wa Jalla berfirman,“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (Qs. Ali Imran: 200).Andaikata esok kalian masih diberi kesehatan oleh Allah, maka perangilah musuh kalian dengan gagah berani, mintalah kemenangan atas musuhmu dari Ilahi.Apabila pertempuran mulai sengit dan api peperangan mulai menyala, terjunlah kalian ke jantung musuh, habisilah pemimpin mereka saat perang tengah berkecamuk, mudah-mudahan kalian meraih ghanimah dan kemuliaan di negeri yang kekal dan penuh kenikmatan.”Kepahlawanan Keempat Anaknya Terdorong oleh nasihat ibunya, keempat puteranya tampil dengan gagah berani.
Mereka bangkit demi mewujudkan impian sang ibunda. Dan tatkala fajar menyingsing, majulah keempat puteranya menuju kamp-kamp musuh.Sesaat kemudian, dengan pedang terhunus anak pertama memulai serangannya sambil bersyair,Saudaraku, ingatlah pesan ibumu tatkala ia menasehatimu di waktu malam..Nasehatnya sungguh jelas dan tegas, “Majulah dengan geram dan wajah muram!” Yang kalian hadapi nanti hanyalah anjing-anjing Sasan, Mereka telah yakin akan kehancurannya, maka pilihlah antara kehidupan yang tenteram atau kematian yang penuh keberuntunganIbarat anak panah, anak pertama melesat ke tengah-tengah musuh dan berperang mati-matian hingga akhirnya gugur. Semoga Allah merahmatinya.
Berikutnya, giliran yang kedua maju menyerang sembari melantunkan,Ibunda adalah wanita yang hebat dan tabah, pendapatnya sungguh tepat dan bijaksanaIa perintahkan kita dengan penuh bijaksana, sebagai nasihat yang tulus bagi puteranyaMajulah tanpa pusingkan jumlah mereka dan raihlah kemenangan yang nyata Atau kematian yang sungguh mulia di jannatul Firdaus yang kekal selamanyaKemudian ia bertempur hingga titik darah yang penghabisan menyusul saudaranya ke alam baka. Semoga Allah merahmatinya.
Lalu yang ketiga ambil bagian. Ia maju mengikuti jejak saudaranya, seraya bersyair,Demi Allah, takkan kudurhakai perintah ibu, perintah yang sarat dengan rasa kasih sayang Sebagai kebaktian nan tulus dan kejujuran maka majulah dengan gagah ke medan perang..hingga pasukan Kisra terpukul mundur atau biarkan mereka tahu, bagaimana cara berjuang Janganlah mundur karena itu tanda kelemahan raihlah kemenangan meski maut menghadangKemudian ia terus bertempur hingga mati terbunuh. Semoga Allah merahmatinya
Lalu tibalah giliran anak terakhir yang menyerang. Ia maju seraya melantunkan,Aku bukanlah anak si Khansa’ maupun Akhram tidak juga Umar atau leluhur yang mulia,Jika aku tak menghalau pasukan Ajam, melawan bahaya dan menyibak barisan tentaraDemi kemenangan yang menanti, dan kejayaan ataulah kematian, di jalan yang lebih muliaLalu ia pun bertempur habis-habisan hingga gugur, Semoga Allah meridhainya beserta ketiga saudaranya.
Tatkala berita gugurnya keempat anaknya tadi sampai telinga al-Khansa’, ia hanya tabah sembari mengatakan “Segala puji bagi Allah yang memuliakanku dengan kematian mereka. Aku berharap kepada-Nya agar mengumpulkanku bersama mereka dalam naungan rahmat-Nya.”
baru saja mendapat pelajaran berharga lagibahwa sebenarnya kondisi pikiran dan jiwa kita berada di bawah kendali apakah yang mengendalikannya nafsu atau hati semua tergantung kesadaran dan 'amal yang kita lakukan dan ternyata kondisi hati kita pun dipengauhi oleh apa yang masuk ke dalam perut kita, apa yang masuk ke penglihatan kita, dan apa yang masuk ke telinga kita
Subhanallah, betapa hidupnya seorang muslim harus selalu sadar dan waspada, sebab syaithan senantiasa mengintai untuk dapat masuk dan membisikkan keburukan serta membujuk berbuat dosa dan maksiat,
betapa kita amat sangat membutuhkan Allah untuk bisa senantiasa istiqomah dan selamat dari bujuk rayu dan godaan syaithan, sebab hanya Allah yang dapat memberi perlindungan terbaik agar kita mampu bertahan untuk selalu menjadi yang terbaik di hadapan-Nya di manapun, kapanpun, dan dalam kondisi seperti apapun
betapa sulitnya menjaga kesadaran dan 'amal untuk selalu menjadi yang terbaik di hadapan Allahkarena kebodohan atau ketidak tahuan kita atas amal-amal yang terbaik yang paling Allah sukai,maupun karena ketidakmampuan mengalahkan dorongan nafsu dan syahwat namun, di sanalah letak ujiannyadan Allah selalu memberi pertolongan dengan ilmu, kesabaran, kekuatan, dan keteguhan hati bagi orang-orang yang sungguh-sungguh berusaha untuk menjadi yang terbaik di hadapan-Nya
Ya Allah.. berikan kami kemampuan dan kemudahan untuk dapat selalu berusaha dan selalu istiqomah mempersembahkan amalan terbaik, pikiran terbaik, dan jiwa terbaik kami untuk-Mu, hanya kepada-Mu dan hanya karena-Mu,aamiin







Aduhhh jadi kepengen nih kayak Tumazhir binti ‘Amru bin Sulami...Semoga Allah memudahkan jalan kita seperti beliauuu
BalasHapusAamiin :)
Hapusceritanya seruu masya Allah
BalasHapus