The Hunger Games 32x32 Logo

Selasa, 12 April 2016

How about "Akhwat Sejati'?

Bismillahirrahmanirrahim

  

Dalam rangka program perbaikan diri terus menerus, maka karena saya seorang mar'ah atau perempuan, dan seorang muslimah, maka saya menganggap sangat baik untuk mengevaluasi diri dengan memakai beberapa indikator di bawah ini, meskipun sangat sempurna tapi da yang namanya indikator harus sesempurna mungkin agar ia layak disebut sebagai indicator. Semoga saya, dan ukhti ukhti muslimah semua dapat berusaha selalu menjadi muslimah sholihah kesayangan Allah, Aamiin

Suatu ketika, seorang santri ikhwan bertanya pada Ustadznya: Ya Ustadz, Ceritakan Kepadaku Tentang Akhwat Sejati…Sang Ustadz pun tersenyum dan menjawab…
Akhwat Sejati bukan hanya dilihat dari sekedar jilbabnya yang lebar, tetapi dari bagaimana ia menjaga pandangan mata (ghodhul bashor), sikap, akhlak, kehormatan dan kemurnian Islamnya…
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari kelembutan suaranya, tetapi dari lantangnya ia mengatakan kebenaran di hadapan laki-laki bukan mahromnya…


Akhwat sejati bukanlah dilihat dari banyaknya jumlah sahabat di sekitarnya, tetapi dari sikap bersahabatnya dengan anak-anaknya, keluarga dekatnya, para jama’ah, para tetangga dan orang2 di sekitarnya...

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari bagaimana ia dihormati di tempat ia bekerja tetapi bagaimana ia dihormati di dalam rumah tangganya…

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari bagaimana ia pintar berhias dan memasak masakan yang enak-enak, tapi bagaimana ia bisa faham dan mengerti selera dan variasi makan suami dan anak-anaknya yang sebenarnya tidak rewel, pintar mengatur cash flow finansial keluarga, mengerti bagaimana berpenampilan menarik di hadapan suami dan selalu merasa cukup (qona’ah) dengan segala pemberian dari sang suami disaat sang suami di saat lapang maupun di saat sempit.

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari wajahnya yang cantik, tetapi dari bagaimana ia bermurah senyum dan sejuk jika dilihat di hadapan suaminya dengan sepenuh hati tanpa dibuat-buat/dipaksakan.

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari banyaknya ikhwan yang mencoba ber-ta’aruf kepadanya, tetapi dari komitmennya untuk mengatakan bahwa sesungguhnya “Tidak ada kata CINTA” sebelum menikah.

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari gelar sabuk hitam dalam olahraga beladirinya, tetapi dari sabarnya ia menghadapi lika-liku kehidupan…

Akhwat Sejati bukanlah dilihat dari sekedar banyaknya ia menghafal Al-Qur’an, tetapi dari pemahaman ia atas apa yang ia baca/hafal untuk kemudian ia amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Sang santri masih penasaran, kemudian santri itu bertanya : ya ustadz, apakah akhwat sejati itu ada? lalu bagaimana cara mendapatkan akhwat sejati itu?

Sang Ustadz kembali tersenyum dan berkata: “Akhwat seperti itu ada, tapi LANGKA. 
Sekalipun ada, biasanya ia memiliki karakter khas antara lain; Sangat mencintai Alloh dan Rosul-Nya melebihi apapun, tidak lepas dari dunia da’wah (minimal di lingkungan sekitar tempat tinggalnya), hidup berjamaah tapi tidak dikenal ‘ashobiyah, tidak ingin dikenal-kecuali diminta/didesak oleh jama’ah (masyarakat), dari keturunan orang-orang yang sholih/sholihat,berasal dari lingkungan yang sangat terpelihara, punya amalan ibadah harian, pekanan dan bulanan di atas rata-rata orang kebanyakan, 
hidupnya sederhana namun tetap menarik dan bermanfaat buat orang lain, dikenal sebagai tetangga yang baik hati, sangat berbakti terhadap orang tua, sangat hormat kepada yang lebih tua dan sangat sayang terhadap yang lebih muda, sangat disiplin dengan sholat fardunya, rajin shoum sunnah dan qiyamullail dan atau bisa jadi amalan ibadah terbaiknya disembunyikan dari mata orang-orang yang mengenalnya, rajin memperbaiki istighfarnya (taubatan nashuha), rajin mendoakan saudara-saudaranya terutama yang sedang dalam keadaan kesulitan atau sedang terdzolimi secara terang-terangan/tersembunyi, rajin bersilaturahim, 
rajin menuntut ilmu-mengaji- (terutama yang syar’i)/minimal rajin hadir di majlis ilmu dan mendengarkannya, senantiasa menambah/memperbaiki ilmunya dan menyampaikan semua ilmu yang ia ketahui setelah terlebih dahulu ia mengamalkannya, rajin membaca/menghafal Al Qur’an atau hadits dan buku-buku yang bermanfaat pintar/kuat hafalannya, sangat selektif soal makanan/minuman yang ia konsumsi, sangat perhatian terhadap kebersihan dan sangat disiplin sekali soal thoharah, sangat terjaga dari soal-soal ikhtilat apalagi ber-khalwat, jauh dari gosip-menggosip, lisan dan semua perbuatannya senantiasa terjaga dari hal-hal yang sia-sia, zuhud, istiqomah, tegar, tidak takut/ bersedih hati hingga berlarut-larut melainkan sebentar (wajar), 
pandai menghibur dan pandai menutupi aib/kekurangan dirinya dan orang-orang yang ia kenal, mudah memaafkan kesalahan/kekeliruan orang lain tanpa diminta dan tanpa dendam, ringan tangan untuk membantu sesama, mudah berinfak (bershodaqoh), ikhlas, jauh dari riya’, ujub, muhabahat, takabur dan tidak emosional, cukup sensitif tapi tidak terlalu sensitif (tidak mudah tersinggung), 
selalu berbuat ihsan dan muroqobatulloh (selalu merasa dekat dan selalu merasa diawasi oleh Alloh baik di saat ramai maupun di saat sendirian), selalu ber-husnudzon kepada setiap orang, benar-benar berkarakter jujur (shiddiiq), amanah dan selalu menyampaikan yang haq dengan caranya yang terbaik (tabligh), 
pantang mengeluh/berkeluh kesah, sangat dewasa dalam menyikapi problematika kehidupan, mandiri, selalu optimis, terlihat selalu gembira dan menentramkan, hari-harinya tidak lepas dari perhitungan (muhasabah) bahwa hari ini selalu ia usahakan lebih baik daripada kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini, dan senantiasa pandai bersyukur atas segala ni’mat (takdir baik) serta senantiasa sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan (takdir buruk) dalam segala keadaan. 

Si Murid rupa-rupanya masih penasaran, dan bertanya kembali kepada Sang Ustadz. “Ya Ustadz, adakah cara yang paling mudah untuk mendapatkannya? atau minimal bisa mendapatkan seorang Akhwat yang mendekati profil Akhwat Sejati?? 

Sang Ustadz pun dengan bijak segera menjawabnya: “Ada, jika antum ingin mendapatkan Akhwat Sejati nan benar-benar sholihah sebagai teman hidup maka SHOLIHKAN DAHULU DIRI ANTUM…!! Karena Insyaa’ Alloh akhwat yang sholihah adalah pada dasarnya juga untuk ikhwan yang sholih…
 
Sumber : Mimbar Dakwah Islam
 

4 komentar:

  1. masyaallah,semoga kita menjadi akhwat sejati,aamiin...

    BalasHapus
  2. kereenn semoga kita termasuk di dalam nya yaaa

    BalasHapus
  3. semoga kita bisa lebih baik dari sebelumnya yahh.. asli keren euy

    BalasHapus